SERBA SERBI

Pak SP yang baik,

Turunnya pamor anthurium, harus diakui telah membuat banyak orang kini dalam kesulitan financial. Terutama mereka yang serakah. Ketika harga merangkak pelan tapi pasti, banyak yang merasa cerdas, untuk langsung memborong banyak-banyak tanaman tersebut. Tak sedikit yang ‘nekad’ menggadaikan rumah, atau sepeda motor, sekadar untuk menangkap moment itu. Tapi, apa mau dikata? Kita tahu kemudian, harga dengan lekas ambrug secara semena-mena.

Ketika anthurium turun panggung, saya masih punya 14 pot Jenmanii dan sejumlah Gelombang Cinta indukan. Sungguh, saya tidak merasa kalah main. Anthurium itu saya simpan dan saya rawat baik-baik di green house yang malah saya bikin khusus untuk itu. Bahkan, saya suka mengajak teman-teman minum kopi, sambil memandanginya.

Ada teman yang punya nasib serupa: menyimpan banyak anthurium ketika harga turun. Berbeda dengan saya, dengan nada penyesalan, dia suka menghitung harga pembelian masing-masing tanaman itu. “500 juta,” katanya, “Sebesar itulah uang yang telah saya keluarkan. Coba kalau waktu itu saya jual tanpa banyak cingcong…..”.

Banyak juga teman-teman yang sekarang merasa empet kalau melihat tanaman-tanaman itu ‘teronggok’ di kebunnya karena ketika ditawar dengan harga bagus, tidak mau dilepaskannya. Sekarang, dia dilanda trauma berat. Jangankan merawat, menyentuh dan melihat pun ogah.

Pak SP yang budiman,

Kalau dibilang akibat anthurium-anthurium itu, uang saya mati, anggapan itu tidak salah. Coba kalau anthurium sebanyak itu saya jual murah saja, mungkin nilainya hampir mencapai 1 M. Sayangnya, saya tidak terlalu suka berandai-andai seperti itu. Saya sendiri tidak pernah melihat hal itu dari perspektif sempit.

Saya tahu kapan jadi pedagang dan tahu kapan berperan sebagai hobiis. Sebagai hobiis, saya jjustru beperpendapat, saya beruntung karena sekarang saya bisa punya anthurium sebanyak itu. Sementara setahun lalu, bermimpi punya satu pot pun saya tidak berani. Saya malah sedang bercita-cita jadi breeder. Sudah ada beberapa yang menghasilkan biji sampai saya kewalahan untuk menyemainya. Itung-itung, kalau saya jual murah untuk mengimbangi pedagang yang suka membanting harga pun, saya sudah berani.

Sebagai pedagang saya selamat karena yang 14 pot itu, kalau harus jujur, itu hanya sekitar 5-8 persen dari yang telah saya perdagangkan selama ini. Dari situ saya tentu saja untung, termasuk yang 14 pot itu. Kenapa saya selamat? Sekali lagi karena pada waktu itu, --ketika harga meroket,-- saya memposisikan diri sebagai pedagang bukan sebagai hobiis apalagi pedagang yang spekulan. Atau kombinasi dari itu.

Seorang pedagang sejati, tahu kapan saatnya membeli dan tahu kapan saatnya harus menjual. Sebagai pedagang saya lebih memilih hanya membeli tanaman yang laku, daripada membeli tanaman yang murah. Saya tidak pernah kikir membeli barang mahal, selama tanaman itu menguntungkan. Sebaliknya saya tak punya nyali membeli tanaman murah, kalau saya tidak bisa menjualnya.

Sebagai pedagang, patokan saya jelas. Tanaman akan saya jual kalau saya sudah untung seperak, tapi pasti tidak akan saya jual kalau saya rugi seperak. Sebagai pedagang saya hanya menjual tanaman yang prima, dan tidak letoy. Sebaliknya kalau saya sedang menjadi kolektor atau hobiis, saya mungkin tidak akan menjualnya meski ditawar dengan harga tinggi. Sebagai kolektor atau hobiis, mungkin saya juga ‘hanya’ akan menjual tanaman yang kurang bagus, dan lebih memilih memiliki hanya yang bagus-bagus saja untuk dirinya.

Jadi, kalau Anda membeli tanaman karena Anda berharap akan mendapat untung belaka, saya berani bilang: Anda adalah penjudi. Nasib penjudi hanya ada dua: kalah atau menang. Jadi kalau Anda kalah, sebaiknya ya legowo, mosok maunya menang terus?

Kalau tanaman Anda ditawar Rp. 75 juta (padahal sudah untung berlipat ganda), tapi Anda tetap bertahan karena Anda berharap untung lebih banyak lagi, saya kira Anda bukan pedagang, tapi spekulan. Kaum spekulan juga punya dua kemungkinan: kalah atau menang. Kalau sekarang tanaman tersebut tidak laku dijual, maka jangan salahkan siapa-siapa.

Terus terang, saya tahu kapan saya menjadi hobiis dan kapan sedang menjadi pedagang. Itulah sebabnya, saya tidak pernah risau, malah bahagia dan bersiul-siul ketika memandangi tanaman di green house saya itu. Karena saat itu, sesungguhnya saya sedang berperan sebagai seorang hobiis.

Bagi seorang hobiis, booming atau tidak, tak penting-penting amat. Yang penting Anda suka, karena tanaman itu unik (mungkin karena corak warna, bentuk, tekstur, urat dan tangkai daun, bonggol, tajuk) , langka, atau pertimbangan lainnya. Sebagai pedagang, tugas saya hanyalah menjual, tidak ada lainnya.

“Saya senang dengan semua tanaman hias, aglo, anthurium, philo, anggrek, tilandsia, bromelia dan tanaman hias lainnya, kecuali satu yang saya benci: spekulan.” Hehehe,… Itu bukan kata-kata saya, Pak. Itu kata Bapak. Masih ingat?

Salam dari Serpong,

KJ
* Kurniawan Junaedhie, adalah wartawan dan pecinta tanaman hias di Serpong
*) Artikel ini ditulis secara khusus untuk Tabloid Hias, Samarinda (direncanakan akan menjadi sebuah rubrik tetap) atas permintaan Bapak Safruddin Pernyata, pengelola tabloid tersebut, seorang penikmat tanaman hias di Samarinda, yang sehari-hari adalah Kepala Dinas Pendidikan Nasional di Kaltim.

Sumber: ToekangKeboen.com